Sabtu, 18 Juni 2011

makro mikro sosiologi


BAB II
PEMBAHASAN

  1. Pembagian Level Analisa Makro dan Mikro Sosiologi
Pembagian level analisa sosiologi kedalam tataran mikro dan makro banyak dilakukan para sosiolog, diantaranya:
  • Jack Douglas (1973). Membedakan antara perspektif makrososial (macrosocial perspective) dan perspektif mikrososial (microsocial perspective). Jack Douglas membedakan antara sosiologi kehidupan sehari-hari (the sociology of everday life situations) dan sosiologi struktur sosial (the sociology of social structures). Sosiologi dalam kehidupan sehari-hari menggunakan apa yang dinamakannya perspektif sehari-hari, interaksionis atau mikrososial. Sedangkan sosiologi struktur sosial menggunakan perspektif struktur atau makrososial. Cabang Sosiologi juga membahas struktur sosial yang mana mempelajari masyarakat secara keseluruhan serta hubungan antara bagian masyarakat. Masyarakat dipandang sebagai sesuatu yang melebihi kumpulan individu yang membentuknya. Sosiologi kehidupan sehari-hari, di pihak lain mengkhususkan diri pada apa yang terjadi pada yang terjadi antara individu, dikala mereka bertatapan, bertindak dan berkomunikasi (Douglas, 1981).
  • Randall Collins. Suatu usaha untuk menjabarkan keadaan antara makrososiologi dan mikrososiologi juga dikemukakan oleh Randall Collins (1981). Collins mengemukakan bahwa mikrososiologi melibatkan analisis terperinci mengenai apa yang dilakukan, dikatakan dan dipikirkan manusia dalam laju pengalaman sesaat, sedangkan makrososiologi melihat analisis proses sosial berskala besar dan berjangka panjang. Collins menetapkan dua landasan empiris untuk membedakan makrososiologi dan mikrososiologi, yaitu faktor waktu dan ruang. Dari segi skala ruang, Collins mengemukakan bahwa pokok bahasan sosiologi dapat berkisar mulai dari seseorang, sekelompok kecil, kerumunan atau organisasi, komunitas sampai masyarakat teritorial. Mikrososiologi lebih diarahkan pada seseorang dan kelompok kecil, sedangkan makrososiologi lebih diarahkan pada pengelompokan yang lebih besar seperti kerumunan atau organisasi, komunitas dan masyarakat teritorial. Dari segi skala waktu, pokok bahasan sosiologi dapat berkisar mulai dari apa yang terjadi dalam suatu detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun sampai ke suatu abad atau lebih. Collins melihat bahwa pokok bahasan mikrosiologi cenderung terdiri atas apa yang terjadi dalam jangka waktu pendek (detik, menit, jam) sedangkan makrososiologi cenderung mempelajari gejala sosial yang berlangsung dalam jangka waktu yang lebih panjang. Seorang ahli mikrososiologi seringkali mengamati berbagai peristiwa yang berlangsung tatkala orang yang saling tidak mengenal berpapasan. Ia akan mengamati misalnya, apakah mereka itu saling memandang, ataukah justru berusaha tidak saling memandang, dan apakah tindakan saling memandang atau tidak itu ada hubungannya dengan faktor tertentu seperti jenis kelamin, usia dan kelas sosial orang yang berpapasan (Sunarto, 2000), (Collins, 1988).

  1. Pembagian Klasifikasi Makro-Mikro Sosiologi Menurut Perbedaan Aliran Pemikirannya
Dalam bukunya, Prof. Dr. Katamso Sunarto yang mengutip dari Ritzer George yang mengklasifikasikan makro-mikrososiologi menurut perbedaan aliran pemikirannya, yaitu:
  1. Teori Makro Sosiologi Fungsionalisme
  1. Tokoh Fungsionalisme Klasik
Durkheim mengemukakan bahwa ikatan solidaritas, yang dijumpai pada masyarakat yang masih sangat sederhana seperti kohesi atau sebuah kekuatan yang saling tarik menarik antara satu sama lain. Sedangkan kekuatan ikatan solidaritas organik yang dijumpai pada masyarakat yang kompleks sangatlah bagus, yaitu terjadinya kohesi atau saling tarik menariknya kekuatan-kekuatan antara organ yang hidup (Lukes, 1973: 148). Dahrendorf menggambarkan mengenai pokok teori fungsionalisme dengan ciri-ciri sebagai berikut:
  • Setiap masyarakat merupakan suatu struktur unsur relatif gigih dan stabil
  • Mempunyai struktur unsur yang terintegrasi secara baik
  • Setiap unsur dalam masyarakat mempunyai fungsi, memperikan andil serta sumbangan bagi terpeliharanya masyarakat sebagai suatu sistem
  • Setiap struktur sosial yang berfungsi didasarkan pada konsensus mengenal nilai dikalangan para anggotanya. (Dahrendorf, 1976: 161).
Teori yang dikenal dengan berbagai nama seperti teori struktural-fungsi, fungsionalisme dan fungsionalisme struktural merupakan teori yang tertua dan hingga sampai saat ini sangat luas pengaruhnya bagi dunia sosiologi. Agueste Comte yang dikenal sebagai “bapak sosiologi” menyumbangkan pemikiranya dengan nama teori positifisme, yang merupakan pembagian stratika sosial dan dinamika sosial, dan organisme yang menampilkan keterkaitan yang erat. Turner (1978) mengemukakan bahwa Comte merupakan perintis pendekatan teori positifisme yang memakai metode ilmiyah untuk mengumpulkan data yang empiris berdasarkan pengalaman. Positifisme Comte mengandung cara pengkajian fakta yang pasti, cermat dan bermanfaat yang dihasilkan dari proses pengamatan, perbandingan, eksperimen dan metode historis.
Emile Durkhem merupakan salah satu tokoh sosiologi klasik yang secara rinci membahas konsep fungsi dan menggunakanya dalam analisis terhadap berbagai pokok pembahasanya. Dalam bukunya The Division of Labor in Society (1964) selain membahas secara rinci tentang konsep fungsi, dia juga membahas fungsi pembagian kerja dalam masyarakat. Apa fungsi pembagian kerja dalam masyarakat? “To ask what the function of the division of labor is to seek for the need which it supplies”, jawab Durkheim (1968: 49). Dalam bukunya juga yang berjudul The Rules of Sociological Method (1965) dia mengemukakan bahwa fakta sosial dapat dijelaskan dengan mempelajari fungsinya. Menurut Durkheim (1965: 95), mencari fungsi suatu fakta sosial berarti “.. . determine wether there is a correspondence between the fact under consideration and the general needs of the social organism.. .” Contoh yang diberikan Durkheim adalah hukuman, fungsi hukuman dalam masyarakat adalah untuk tetap memelihara intensitas sentimen kolektif yang ditimbulkan oleh kejahatan. Tanpa adanya hukuman bagi kejahatan, maka akan bisa dipastikan masyarakat tersebut akan hancur dan lenyap Durkheim (1965: 96).
  1. Tokoh Fungsionalisme Modern
Talcott Parsons merupakan tokoh sosiologi modern yang mengembangkan analisis fungsional dan secara rinci digunakan dalam karya-karyanya. Dan menghasilkan kara pertamanya yang diberi judul The Sicial System (1951), dan pandangan parsons yang terkenal adalah tentang kajianya mengenai fungsi struktur bagi dipecahkanya lima masalah. Yaitu tentang adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi, pemeliharaan pola dan pengendalian ketegangan (Turner, 1978: 51).
Kemudian juga Robert K. Merton (1968) yang merupakan seorang tokoh sosiologi modern yang melakukan perincian lebih lanjut dalam analisis fungsional dengan memperkenalakan konsep fungsi, disfungsi, fungsi laten dan fungsi manifest. Menurut Merton, sangat penting untuk memahami beberapa konsep tersebut, karena para tokoh fungsionalisme sebelumnya hanya menitik beratkan perhatianya pada konsep fungsi saja dan mengabaikan konsep lainya, (Sunarto, 2004: 217).

  1. Teori Makrososiologi Konflik
Dahrendorf mengemukakan asumsi-asumsi utama tentang teofi konflik, yaitu: setiap masyarakat tunduk pada proses perubahan, disensus dan konflik terdapat dimana-mana, setiap unsur masyarakat memberikan sumbangan pada disintegrasi dan perubahan masyarakat, setiap masyarakat didasarkan pada paksaan beberapa orang anggota terhadap anggota lain (Dahrendorf, 1976: 162).
  1. Tokoh Awal Pemikiran Teori Konflik Dalam Makro Sosiologi
Karl Max, yang menyumbangkan teori kelas. Marx berpendapat bahwa sejarah masyarakat hingga kini adalah sejarah perjuangan kelas, (Coser, 1977: 48). Dengan munculnya kapitalisme terjadilah perpisahan tajam antara mereka yang menguasai alat produksi dan mereka yang mempunyai tenaga. Perkembangan kapitalisme memperuncing kontradiksi antara dua kategori sosial tersebut, sehingga pada akhirnya terjadi konflik didalamnya. Konsep penting lainya yang dikembangkan oleh Marx adalah tentang “Alienasi”, Marx melihat bahwa sejarah manusia mempertimbangkan peningkatan penguasaan manusia terhadap alam serta peningkatan alienasi (penarikan diri atau pengasingan diri dr kelompok atau masyarakat) manusia, (lihat Sunarto, 2004: 218).
Max Weber, seorang tokoh sosiologi yang sering dikaitkan dengan tepri sosiologi yang berbeda. Uraian Weber mengenai tindakan sosioal sebagai pokok perhatian sosiologi dijadikan dasar bagi pengembangan teori interaksionalisme simbolik, (lihat Turner, 1978). Weber juga dianggap sebagai tokkoh yang memberi sumbangan sebagai fungsionalisme awal, (Turner, 1978). Namun Weber dianggap pula sebagai penganut teori konflik, (lihat Collins, 1968).
  1. Tokoh Modern Teori Konflik Dalam Makro Sosiologi
Ralf Dahrendorf, dalam tulisanya mengenai kelas dan konflik kelas dalam masyarakat industri, Ralf Dahrendorf (1976) menolak beberapa pandangan Marx. Ralf mengamati bahwa perubahan sosial tidak hanya datang dari dalam, tetapi juga dapat datang dari luar masyarakat. Bisa dikatakan juga bahwa perubahan dari dalam masyarakat tidak selalu disebabkan konflik sosial. Dan bahwa disamping konflik kelas, terdapat pula konflik sosial lainya.
Menurut teori konflik fersi Ralf Dahrendorf, masyarakat terdiri atas organisasi-organisasi yang didasarkan pada kekuasaan (didominasi satu pihak atas pihak lain secara paksa) atau wewenang (dominasi yang diterima dan diakui oleh pihak yang didominasi) yang diberi nama “Imperatively Coordinated Associations” (asosiasi yang dikoordinasi secara paksa). Karena kepentingan masing-masing pihak dalam asosiasi-asosiasi tersebut berbeda-beda. Pihak penguasa berkepentingan untuk mempertahankan kekuasaan, sedangkan dari pihak yang dikuasai berkepentingan untuk memperoleh kekuasaan. Maka dari itu akan terjadi polarisasi atau pembagian bagi kelompok-kelompok yang saling berlawanan dan akan terjadi konflik didalamnya. Dan pada akhirnya akan menimbulkan perubahan sosial, (lihat Dahrendorf, 1976).
Lewis Coser, seorang sosiolog yang dikenal dengan pandanganya bahwa konflik mempunyai fungsi positif bagi masyarakat, (lihat Coser, 1964). Coser mengembangkan sejumlah proporsi mengenai fungsi konflik atas dasar asas yang ditegakkan oleh tokoh teori konflik lainya, seperti Georg Simmel. Menurut definisi kerja konflik adalah perjuangan mengenai nilai serta tuntutan atas status, kekuasaan dan sumber daya yang bersifat langka dengan maksud menetralkan, mencederai atau melenyapkan lawanya, (lihat Coser, 1964). Kajian Coser terbatas pada fungsi positif dari konflik, yaitu dampak yang mengakibatkan peningkatan dalam adaptasi hubungan sosial atau kelompok tertentu, (lihat Sunarto, 2004: 219).
  1. Teori Mikro Sosiologi Pertukaran
  1. Teori pertukaran klasik
Teori pertukaran awalnya dikembangkan oleh para ahli antropologi Inggris seperti Bronislaw Malinowski dan diperhalus oleh Marcel Mauss dan Claude Levi-Strauss (lihat Turner, 1978: 201-215). Inti dari teori ini adalah bahwa manusia adalah makhluk yang mencari keuntungan (benefit) dan menghindari biaya (cost). Jadi manusia dalam perspektif para penganut teori pertukaran, merupakan makhluk pencari imbalan (reward-seeking animal), (lihat Sunarto, 2004: 220).
Dalam perkembanganya, teori ini mulai meninggalkan beberapa asmsi utama dari aliran utilitarianisme. Misalnya, kaum utilitarian yaang mempermasalahkan komoditas material, mulai berfikir bahwa tidak hanya sebatas material saja namun bisa berupa non-material. Seperti jasa, perasaan dan sebagainya.
  1. Teori pertukaran modern
George C. Homans merupakan salah seorang tokoh teori pertukaran modern. Homans berpendapat bahwa pertukaran yang berulang-ulang mendasari hubungan sosial yang berkesinambungan antara orang tertentu. Menurut Homans, seseorang akan semakin cenderung melakukan suatu tindakan manakala tindakan tersebut makin sering disertai imbalan. Dari proses pertukaran semacam inilah, akan muncul organisasi sosial. Baik yang berupa kelompok, institusi maupun masyarakat, (lihat Turner, 1978: 216-245).
Peter Blau yang berbeda dengan Homans, yang membatasi analisisnya pada jenjang mikrososiologi, walaupun walaupun menurutnya proses perilaku sosial pada jenjang mikro tersebut mempunyai dampak pada mikrososiologi. Maka teori Blau berusaha menjembatani kedua jenjang analisis sosiologi. Perbedaan lainya adalah bahwa Blau membatasi diri pada interaksi yang melibatkan asas pertukaran dengan mengakui bahwa tidak semua interaksi melibatkan pertukaran, sedangkan Honmans cenderung berpendapat bahwa semua interaksi melibatkan pertukaran. (lihat Sunarto, 2004: 246-277).
  1. Teori Mikro Sosiologi Interaksionisme Simbolik
Meskipun diantara para penganut teori interaksionisme simbol terdapat perbedaan pandangan, namun Turner mencatat bahwa mereka sepakat mengenai beberapa hal, yaitu:
  • Terdapat kesepakatan bahwa manusia merupakan makhluk yang mampu menciptakan dan menggunakan simbol.
  • Manusia menggunakan simbol tersebut untuk saling berkomunikasi.
  • Manusia berkomunikasi melalui pengambilan peran (role taking).
  • Masyarakat tercipta, bertahan, dan berubah berdasarkan kemampuan manusia untuk berfikir, untuk mendefinisikan, untuk renungan dan untuk melakukan evaluasi, (lihat Blumer, 1969: 1-60).
  1. Interaksionisme Simbolik Klasik
Teori yang mengkhususkan diri pada interaksi sosial mula-mula bersumber pemikiran para tokoh sosiologi lkasik dari Eropa, seperti Georg Simmel dan Max Weber.
Georg Immel, berpandangan bahwa muncul dan berkembangnya kepribadian seseorang tergantung pada jaringan sosial, (istilah Summel, “web of group affiliations) yang dimilikinya, yaitu pada keanggotaan kelompoknya, (lihat Turner, 1978).
Max Weber. Sebagaimana yang telah kita lihat, Weber memperkenalkan interaksionisme dengan menyatakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang berusaha memahami tindakan sosial dan dengan memberi definisi dan membahas konsep dasar yang menyangkut interaksi seperti tindakan, tindakan sosial dan tindakan non sosial, serta hubungan sosial, (lihat Weber, 1947).
  1. Interaksionisme Simbolik Modern
Tokoh sosiolog modern dari Amerika Serikat yang merintis pemikiran dasar mengenai interaksionalisme antara lain, William James, Charles Horton Cooley, John Dewey dan George Hebert Mead, (lihat Turner, 1978: 309-390). Ide-ide mereka kemudian mempengaruhi angkatan ahlli sosiologi yang lebih muda, seperti Hebert Blumer, Erving Goffman dan Peter L. Berger.
James terkenal karena merumuskan dan mengembangkan konsep diri (self). Dia berpendapat bahwa perasaan seseorang mengenai dirinya sendiri, seseorang muncul dari interaksinya dengan orang lain. Jumlah diri yang dimiliki seseorang sama banyaknya dengan jumlah lingkungan sosial dimana dia tinggal. Misalnya, mengapa seseorang yang demokratis terhadap bawaha dilingkungan kantornya ternyata dia menjadi sangat otoriter terhadap keluarganya dirumah.
Charles Horton Cooley, yang mengembangkan konsep Looking Glass Self yang intinya adalah bahwa seseorang mengevaluasi dirinya sendiri atas dasar sikap dan erilaku orang lain terhadapnya. Disini juga nampak bahwa menurut Cooley, diri seseorang berkembang dalam interaksi dengan orang lain, (lihat Turner, 1978: 313-315).
John Dewey, seorang tokoh pragmatisme yang menekankan pada proses penyesuaian diri manusia pada dunia. Sumbangan Dewey terletak pada pandanganya bahwa pikiran (mind) seseorang berkembang dalam rangka usahanya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan bahwa pikiran tersebut ditunjang oleh interaksinya dengan orang lain, (lihat Turner, 1978: 314-315).
George Hebert Mead, konsep diri dan pikiran yang dikembangkan oleh para ahli sosiologi tersebut digunakan Mead untuk mengembangkan teorinya. Mead secara rinci membahas hubungan antara pikiran seseorang, dirinya dan masyarakat, (lihat Mead, 1972). Mead menyumbangkan pemikiranya tentang pandangan diri seseorang berkembang melalui tahap Plai, The Game and Generalized Other. Dan bahwa dalam proses perkembangan diri ini, seseoranng belajar mengambil peran orang lain (taking the role of the other).
W. I. Thomas, yang memperkenalkan konsep The Devinition Of Thee Situation dalam sosiologi interaksi. Maksudnya adalah bahwa manusia tidak langsung memberikan tanggaan terhadap rangsangan. Sebelum bertindak untuk menanggapi, menanggapi dan melakukan penilaian dan pertimbangan terlebih dahulu. Mendefinisikan suatu rangsangan dai luar, individu selalu melakukan seleksi, mendefinisikan situasi dan memberikan makna pada situasi yang dihadapinya.
Herbert Blimer, dia berusaha merinci dan menjelaskan asas yang telah ditegakkan oleh Mead. Menurut Blumer, interaksionalisme simbolik daidasarkan pada tiga premis, yaitu: manusia bertindaak terhadap sesuatu atas dasar makna sesuatu tersebut bagi mereka, makna merupakan suatu produk sosial yang muncul dalam proses interaksi antar manusia dan penggunaan makna oleh para pelaku yang berlangsung melalui suatu proses penafsiran, (lihat Blumer, 1969: 1-60).
  1. Perspektif Makro dan Mikro Sosiologi
  1. Perspektif Makro Sosiologi
  1. Struktur Sosial
Untuk memahami perilaku manusia kita perlu memahami struktur sosial, kerangka masyarakat yang sudah terbentuk sjak kita belum lahir. Struktur sosial merujuk pada pola khas suatu kelompok, seperti hubungan yang lazim aantara kaum laki-laki dengan perempuan, atau antara mahasiswa dengan pelajar. Arti penting sosiologis struktur sosial adalah bahwa struktur sosial memandu perilaku kita.
Sebagai contoh, struktur sosial di perguruan tinggi mempengaruhi dan sedang membentuk apa yang sedang anda lakukan. Semisal seseorang sedang mengalami euforia karena mendapatkan berita yang sangat menyenangkan. Dan mengapreasikan kegembiraan tersebut dengan berbagai cara, dengan berteriak atau melempar toppi keatas misalkan. Hampir bisa dipastikan ketika dia memasuki ruang kelas, suasana kelas bisa meredam hati dia. Maksudnya adalah dia akan memasuki ruang kelas denngan tenang dan terkendali. Sebagai contoh lagi tentang seorang pengajar. Meskipun dia sedang menghadapi permasalahan yang sulit yang sedang dihadapi diluar sana, anaknya sakit kanker atau sedang ribut dengan istrinya misalkan atau bahkan mendapat undian hadiah sebesar satu milyar atau yang lainya. Teentu sang pengajar tadi merasakan sedih dan ingin menyepi atau merayakan dengan penuh bangga dan penuh suka cita. Tetapi yang lebih sering terjadi adalah bahwa dia akan bertindak seperti biasa ketika memasuki ruang kelas dimana dia mengajar. Singkatnya, bahwa srtuktur sosial cenderung melampaui perasaan dan keinginan pribadi seseorang. Dan bisa disimpulkan bahwa orng mempelajari perilaku dan sikap tertentu akibat lokasi atau kedudukan mereka dalam struktur sosial. Apakah mereka itu kaya, miskin atau ditengah-tengah. Dan mereka bertindak sesuai hal diatas, dan ini berlaku bagi semuanya. Baik itu presiden, anak jalanan atau siapapun juga. Perbedaan dalam perilaku dan sikap kita tidak disebabkan oleh faktor biologi, seperti ras, seks atau apapun juga yang dianggap sebagai faktor genetik lainya. Tetapi melainkan karena lokasi orang tersebut didalam struktur sosial.
  1. Kebudayaan
Intinya, para sosiolog mempergunakan istilah “kebudayaan” untuk merujuk pada bahasa, kepercayaan, nilai, perilaku, ataau bahkan gerak-isyarat suatu kelompok tertentu. Kebudayaan juga menyangkut objek material yang digunakan oleh suatu kelompok tersebut. Kebudayaan merupakan kerangka terluas yang bisa menentukan kita bisa menjadi orang yang bagaimana. Seperti contoh ketika kita dibesarkan di Indonesia. Maka kita akan tumbuh seperti kebudayaan orang Indonesia. Dari luar kita akan nampak bahwa kita bertindak dan mengikuti gaya mereka.


  1. Kelas Sosial
Untuk memahami seseorang, maka kita harus melihat dan mempelajari yang mereka tempati. Dan yang paling berparan adalah kelas sosial yang secara garis besar didasarkan atas dasar penghasilan, pendidikan dan prestise pekerjaan. Orang yang memiliki penghasilan dan pendidikan yang sama dan bekerja dalam bidang yang prestisenya sedikit-banyak sebanding membentuk suat kelas sosial.
  1. Status Sosial
Secara umum jika kita mendengar kata “status” maka kita akan cenderung menyimpulkan mengenai sebuah “prestise”. Maka dapat kita simpulkan bahwa dalam pemikiran orang awam, kedua kata ini telah bertautan satu sama lain. Namun para sosiolog memahami dan menggunakan kata “status” dengan cara yang berbeda. Yaitu untuk merujuk pada posisi yang diduduki seseorang. Yang mana posisi tersebut bisa mengandung prestise tinggi seperti presiden, austronout dan sebagainya. Atau bisa mengandung prestise yang rendah, seperti pramuniaga toko, tukang es dan sebagainya. Status juga dapat dipandang rendah, seperti anak jalanan, mantan narapidana, sorang pencuri dan sebagainya.
Sering juga kita menduduki berbagai status pada waktu yang bersamaan. Misalnya seorang anak laki-laki atau perempuan bisa menjadi pelajar ketika disekolah dan menjadi petani ketika disawah. Para sosiolog menggunakan istilah perangkat status (status set) untuk merujuk atau mengistilahkan semua status atau posisi yang diduduki seseorang. Dengan sendirinya status seseorang bisa berubah ketika status khas orang tersebut berubah. Misalkan ketika seseorang tersebut lulus dari perguruan tinggi, terus bekerja, menikah, mempunyai anak, bisa membeli rumah dan sebagainya. Maka secara otomatis status orang tersebut berubah dari seorang pelajar menjadi seorang pekerja,telah menemukan pasangan hidup, seorang tuan rumah, menjadi orang tua dan sebagainya.
  1. Status Bawaan dan Capaian
Status bawaan (ascribed status) bersifat tidak sukarela. Kita tidak dapat memintanya atau memilihnya. Seperti ras-etnisitas, jenis kelamin dan jenis status sosial orang tua kita. Sedangkan status capaian (achieved status) berbanding terbalik dengan status bawaan. Status capaian bersifat sukarela. Ini merupakan suatu status yang kita capai atau kita raih, sebagai hasil dari upaya kita. Semisal kita menjadi mahasiswa, menjadi seorang teman yang baik, memilih pasangan hidup, memilih pegangan hidup, dan sebagainya. Atau karena tidak ada upaya, seperti ketika menjadi orang yang putus sekolah, teman yang jahat dan sebagainya. Dengan kata lain, status capaian dapat bersifat positif atau bersifat negatif. Baik seorang presiden maupun seorang perampok, keduanya merupakan sebuah status capaian. Stiap status mempunyai panduan bagaimana kita harus bertindak atau berperasaan. Sebagaimana halnya dengan aspek lain dalam struktur sosial, status menempatkan batas pada apa yang bisa kita lakuakan dan apa yang tidak bisa kita lakukan. Karena ststus sosial merupakan hal yang hakiki dalam struktur sosial, maka status sosial dapat ditemukan dalam setiap kelompok manusia.
  1. Simbol Status
Orang yang merasa senang dengan status sosial mereka mungkin menghendaki suatu simbol atau pengakuan dari orang lain bahwa mereka menduduki status yang mereka duduki. Untuk memperoleh pengakuan tersebut, mereka menggunakan simbol status (status symbol), yang dimaksudkan sebuah tanda yang bisa mengidentifikasi suatu status. Misalkan ketika dua orang mengumumkan permenikahan mereka, mereka memakai baju yang bagus dan memakai cincin. Atau seorang anggota polisi yang memakai badge, seragam lengkap dengan pistil dipinggangnya untuk menandakan bahwa dia adalah seorang anggota kepolisian. Dan sebagainya. Kita menggunakan simbol status untuk mengumumkan suatu status yang kita sandang. Disamping itu juga membantu melancarkan interaksi kita dalam kehidupan sehari-hari.
  1. Status Utama
Status utama (master status) adalah suatu status yang bisa memotong status lain yang anda miliki. Beberapa ststus utama bersifat melekat (bawaan), seperti jenis kelamin. Apapun yang dilakukan, seperti jika seorang laki-laki atau perempuan berusaha mencari uang untuk membiayai kuliahnya sebagai tukang martabak, maka orang lain akan mempersepsikan dia sebagai seorang laki-laki atau perempuan dengan melihat tingkah laku orang tersebut. Tidak hanya sebagai tukang martabak namun sebagai tukang martabak laki-laki atau perempuan, atau sebagai mahasiswa laki-laki atau perempuan. Status lainya adalah masalah ras dan usia.
  1. Peran
Perbedaan antara peran dan status adalah bahwa seseorang bisa menduduki suatu status, tetapi anda juga memainkan suatu peran. Sebagai contoh, seseorang bisa perstatus sebagai laki-laki atau perempuan, itu merupakan perwujudan dari status. Namun, harapan untuk menerima pangan atau tempat tinggal dan perlindungan dari orang tua adalah sebagian dari peran. Demikian pula dengan harapan orang tua dengan orang tersebut.
Peran bisa diibaratkan sebagai sebuah pagar. Peran memungkinkan kebebsan tertentu bagi kita, namun juga ada yang bersifat terbatas. Andaikata seorang perempuuan memutuskan untuk tidak memakai gaun tau seorang laki-laki memutuskan untuk tidan memakai jas dan dasi. Dan tidak memperdulikan apa perkataan orang, dan dalam sebagian besar situasi mereka tetap teguh dengan keputusan yang mereka ambil. Namun suatu saat jika ada suatu acara formal, seperti acara pernikahan atau acara kematian misalkan, maka mereka akan cenderung menyerah pada norma yang berlaku, yang dirasanya sangat merepotkan. Hampir semua orang mengikuti panduan mengenai hal-hal yang “pantas” bagi peran mereka masing-masing. Tetapi ada sebagian diantara kita yang merasa tidak merasa keberatan dan terganggu dengan kendala seperti itu. karena pengaruh sosialisasi kita yang telah merasuk kedalam dan tumbuh secara sendiriny, maka secara otomatis kita akan mempunyai keinginan untuk melakukan apa yang pantas menurut peran kita masing-masing.


  1. Kelompok
Suatu kelompok biasanya terdiri dari orang-orang yang saling berinteraksi. Biasanya anggota suatu kelompok terikat dengan suatu norma, nilai dan harapan yang sama. Sebagaimana kelas sosial, status dan peran yang mempengaruhi tindakan kita, maka suatu kelompok dimana kita berada didalamnya dan bergabung denganya itu juga merupakan suatu kekuatan yang tangguh dalam kekuatan kita. Kita akan mengasumsikan bahwa kita harus bertindak seperti dan sesuai harapan anggota kelompok laindidalam kelompok tersebut.
  1. Institusi sosial
Secara umum istilah institusi sosial tidak banyak relevansinya bagi kehidupan kita, karena istilah tersebut terasa asing ditelinga kita. Namun menurut faktanya, institusi sosial (catra yang dikembangkan tiap masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka) mempunyai pengaruh yang cukup vital pada kehidupan kita. Dengan membentuk sistem masyarakat, institusi sosial mempengaruhi pembentukan perillaku kita. Bahkan bisa membentuk corak atau model pemikiran kita. Seperti contoh, dalam masyarakat industri, institusi sosial cemderung lebih formal, namun pada masyarakat yang masih bersifat kesukuan, institusi sosial lebih bersifat informal. Pendidikan dalam masyarakat industri misalkan, sangatlah terstruktur. Sedangangkan dalam masyarakat yang masih bersifat kesukuan, pendidikan cenderung bersifat informal. Dan pendidikannya masih cenderung bersifat pembelajaran informal, seperti apa yang telah dilakukan oleh para orang tua dan para pendahulu mereka.
  1. Masyarakat dan Transformasinya
Bagaimanakah masyarakat kita berkembang? Kita tahu bersama bahwa masyarat pada awalnya tidak muncul dalam keadaan yang seperti sekarang ini. Dalam pembahasan ilmu antropology, secara garis besar manusia mengalami perubahan. Dari dulu yang masih bersifat agricultural, menjadi industrial. Dan sampai perkembanganya, sekarang menjadi masyarakat knowledge (IT). Dan hal ini akan selalu berkembang.
  1. Masyarakat Pemburu dan Pengumpul
Masyarakat yang pembagian sosialnya paling sedikit dinamakan masyarakat pemburu dan pengumpul. Sebagaimana tercermin dari namanya, kelompok ini tergaantung pada berburu dan mengumpulkan sebagai usahanya untuk bertahan hidup. Para pengumpul tidak menanam, namun hanya mengambil apa yang sudah ada. Karena suatu wilayah tidak dapat memenuhi kebutuhanya, maka sebagian mereka ada yang berburu. Masyarakat seperti ini biasanya hanya kelompok-kelompok kecil, yang kira-kira hanya terdiri dari 25-40 orang. Dan mereka mengembara, berpindah dari satu tempat ketempat lain. (lenski dan lenski 1987). Diantara semua jenis masyarakat, para pemburu dan pengumpul merupakan kelompok yang paling egaliter (bersifat sama/sederajat). Salah satunya karena apa yang mereka buru dan mereka kumpulkan cepat busuk, dan mereka tidak dapat menumpuk kepemilikanya tersebut. Dan sebagai konskwensinya, tidak ada seorangpun yang lebih kaya daripada yang lain, dan setiap eputusan yang akan diambil diputuskan dengan cara musyawaroh.
  1. Masyarakat Penggembala dan Holtikultura
Pada masa lalu, kelompok masyarakat pemburu dan pengumpul mulai menyadari bahwa sebagian dari mereka bisa mengolah alam atau tanaman dan ada pula yang bisa menggiring hewan (menggembala) binatang. Akhirnya dari mereka breusaha mengembangkan hal tersebut sedikit demi sedikit. Kunci dari pencabangan pertama adalah kata penggembala (pasture) atau masyarakat penggembala (pastoral societes atau yang dinamakan juga masyarakat penggiring, herding societes) yang menggantungkan hidupnya dengan menggembala hewan ternak. Mereka juga masih senantiasa mengembara, mencari padang rumput untuk makanan peliharaanya tersebut. Yang kedua adalah holtikultura atau pemelihara tanaman. Masyarakat holtikultura (holticultural societes) yang juga dinamakan masyarakat berkebun, didasarkan pada pemeliharaan tanaman dengan menggunakan peralatan tangan. Dan masyarakat yang seperti ini sudah mulai membangun pemukiman permanen. Inilah yang disebut refolusi sosial yang pertama.
  1. Masyarakat Agraria
Sejak bajak ditemukan sekitan lima atau enam ribu tahun yang lalu, terjadilah refolusi sosial yang kedua. Bajak membawa manfaat yang luar biasa waktu itu, dengan ini masyarakat mendapat surplus makanan yang cukup banyak. Dan akhirnya memungkinkan untuk tumbuh dan kota menjadi berken]mbang (yang sebelumya hanya pemukiman kecil). Dalam masyarakat agraria yang baru ini, mulai muncul dan berkembang sejumlah orang yang melibatkan dirinya diluar pertanian. Mereka senantiasa berkembang, dan akhirnya memunculkan sebuh kebudayaan. Seperti muncul seni musik, sastra, filsafat dan seagainya. Karena perubahan yang sedemikian besarnya, maka periode ini kerap dinamai dengan “awal mula peradaban”.
  1. Masyarakat industri
Revolusi atau perubahan sosiologi ketiga pun menjungkir balikkan masyarakat. Revolusi yang dimulai di daerah Britania Raya sekitar tahun 1765. Mesin uap pertama kali digunakan untuk menjalankan mesin. Padahal sebelumnya beberepa mesin sebelumnya telah memanfaatkan energi alam, seperti kincir angin dan air. Yang mana masih bergantung pada tenaga manusia dan binatang. Tidak bisa dipungkiri bahwa bentuk baru produksi dalam masyarakat industri jauh lebih efisien atau tepat guna dari sebelumnya. Bentuk produksi baru ini membawa surplus yang jauh lebih besar dari yang sebelumnya. Tetapi bersamaan dengan itu pula, menimbulkan ketidaksetaraan yang lebih besar. Individu yang pertama menggunakan teknologi baru tersebut mengakumulasi atau menimbun kekayaan yang luar biasa. Dan ini berimbas kepada kaum pinggiran yang belum menggunakan teknologi tersebut.
  1. Masyarakat Pasca Industri (Informasi)
Dewasa ini muncul suatu tipe masyarakat baru. Kecenderungan dasar masyarakat industri maju adalah meninggalkan produksi dan manufaktur (proses mengubah bahan mentah menjadi barang untuk dapat digunakan atau dikonsumsi oleh manusia).
  1. Perspektif Mikro Sosiologi
Berbeda dengan makro sosiologi yang memfokuskan pada ciri luas suatu masyarakat, maka pendekatan mikro sosiologi mempunyai fokus yang lebih sempit. Mikrososiologi mempelajari interaksi tatap muka (face to face interaction) apa yang dilakukan seseorang ketika mereka berkumpul. Yang mempunyai beberapa wilayah kehidupan sosial, diantaranya: Stereotip (konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat) dalam kehidupan sehari-hari. Kita tahu bahwa betapa kuatnya kesan pertama dan bagaimana kesan pertama meletakkan dasar bagi interaksi. Pada saat pertama kali kita bertemu seseorang, mau tidak mau harus memperhatikan ciri yang nampak dan mencolok dari orang tersebut. Khususnya jenis kelamin, ras, usia dan busana orang yang bersangkutan. Dan dari hal tersebut timbullah kesan yang pertama kali bagi kita dari orang tersebut. Dan kesan pertama yang sudah terbentuk tadi, bisa mempengaruhi tingkah kita kepada orang yang bersangkutan.
  1. Ruang pribadi
Kita semua mempunyai apa yang disebut “gelembung pribadi”, yang selalu kita lindungi dengan segala cara. Kita hanya membuka “gelembung” tersebut bagi orang-orang yang dekat dengan kita.
Besarnya ruang yang dinginkan setiap orang berfariasi antara suatu kebudayaan dengan kebudayaan lain. Menurut Edward Hall (1959: Hall dan Hall 2005), mengisahkan suatu perbincangan dengan seorang lelaki dari daerah Amerik Selatan yang mengikuti kuliahnya; “ia maju kedepan kelas pada akhir kuliah, kami mulai saling berhadapan. Dan ketika ia mulai berbicara, saya secara samar-samar bahwa ia berdiri terlalu dekat dan saya mulai melangkah mundur. Melalui eksperimen, saya bisa mengamati bahwa keetika saya bergerak mundur sedikit, terjadi pergeseran pada pola interaksi. Ia mengalami lebih banyak kesukaraan dalam mengekspresikan dirinya. Ia nampak sedikit bingung dan tersinggung”.
Dari eksperimen tersebut, Edward Hall (1959: Hall dan Hall 2005) menyimpulkan bahwa adanya empat zona jarak, yaitu:
  • Jarak intim, sekitan 45 cm dari tubuh kita. Kita menggunakan ruang ini untuk bercinta, menghibur, melindungi, merangkul dan bercinta
  • Jarak pribadi, sekitar 45-120 cm. Kita menggunakan ruang ini untuk teman dan percakapan biasa.
  • Jarak sosial, sekitar 120-400 cm. Kita menggunakan zona ini untuk hal yang formal. Seperti wawancara lamaran kerja dan sebagainya.
  • Jarak publik, sekitar 400 cm lebih dari tubuh kita.

  1. Dramaturgi: Penyajian Diri Dalam Kehidupan Sehari-Hari
Sosiolog Erving Goffman (1922-1982) menambahkan suatu corak baru pada mikrososiologi ketika ia mengembangkan dramaturgi (keahlian dan teknik penyusunan karya dramatik). Yang dimaksud adalah bahwa kehidupan sosial laksana suatu drama atau suatu pementasan. Kelahiran menghantarkan kita kepentas kehidupan sehari-hari, dan sosialisasi kita terdiri atas pembelajaran untuk dpat tampil dipentas tersebut. Goffman menamakan upaya untuk mengelola kesan orang lain mengenai kita dengan “manajemen kesan(impression management).” Kita juga mempunyai peran yang disebut “peran utama”, dimana kita mengekspresikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari.
Kehidupan sehari-hari membawa banyak peran didalamnya. Misalkan seseorang dapat sebagai pelajar, seorang pemuda, petni dan sebagainya. Baik itu seorang laki-laki maupun perempuan. Biasanya peran kita cukup terpisah, sehingga dapat meminimalisasi konflik yang terjadi. Namun kadang, apa yang diharapkan dari suatu peran tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan dari suatu peran lain. Ini seringg disebut juga dengan “konflik peran (role conflict). Dan terkadang pula ada peran yang sama pun menimbulkan konflik, yang sering disebut dengan “ketegangan peran (role strain).” Seperti halnya ketika seorang dosen yang mengajukan pertanyaan kepada seorang mahasiswa dikelas, tetapi orang tersebut tidak bisa menjawab. Namun disisi lain, anda tahu dan ingin mengacungkan tangan untuk menjawabnya. Disinilah sering terjadi ketegangan, pertimbanganya jikalau tiba-tiba menjawab maka hampir bisa dipastikan akan mempermalukan mahasiswa yang ditunjuk tadi karena dianggap tidak bisa menjawab. Dan hal ini seyogyanya tidak boleh terjadi. Perbedaan antara konflik peran dengan ketegangan peran adalah bahwa konflik peran adalah konflik antar peran, sedangkan ketegangan peran merupakan ketegangan yang terjadi dalam suatu peran.
  1. Etnometodologi: mengungkapkan asumsi latar belakang
Etnometodologi adalah kajian terhadap bagaimana orang menggunakan pemahaman akal sehat untuk memahami kehidupan sehari-hari. Sosiolog Harold Garfinkel (1967) sang pendiri Etnometodologi melaksanakan beberapa latihan menarik yang didesain untuk mengungkapkan asumsi latar belakang kita. Beliau meminta mahasiswanya untuk berpura-pura tidak memahami peraturan dasar dalam kehidupan sosial untuk membuktikan asumsi tersebut.
  1. Konstruksi Sosial Mengenai Realitas
Para penganut interaksionisme menekankan bahwa ide kita mempengaruhi realitas kita. Yang sering kita kenal dengan sebutan “definisi situasi (the definition of the situation).” Atau “Theorem Thomas (Thomas Theorem).” Sosiolog W.I. Thomas dan Dorothy S. Thomas (1928) mengatakan bahwa: “jika orang mendefinisikan situasi sebagai hal yang nyata, maka konsekwensinya adalah mereka nyata.” Perhatikan kasus berikut. “saat seseorang berkunjung ke daerah maroko, dia ingin membeli buah semangka. Disaat pedagangnya ingin mengiris semangka tersebut, orang tadi protes karena pisaunya terlihat sangat kotor. Dan pedagang tersebut langsung membungkuk untuk membasuhnya dengan air yang menggenang di jalanan, padahal air tersebut sudah berubah warna karena ada tinja keledai didekatnya. Dengan cepatnya orang tersebut meminta untuk tidak jadi memotong semangka dan akhirnya pergi.”
Bagi penjual tersebut, kuman tidaklah ada. Bagi pembeli tadi, percaya bahwa kuman itu ada. Masing-masing bertindak sebagaimana dengan definisinya. Penjual tersebut mempercayai bahwa kuman itu ada karena dia tumbuh didalam masyarakat yang mengajarkan bahwa kuman itu ada, bukan bersumber pada fakta bahwa kuman itu memang benar-benar ada.
Inilah yang disebut sebagai “konstruksi sosial mengenai realitas”.


Kamis, 16 Juni 2011

اللغة في السياسة الماليزية، والسياسة اللغوية في ماليزيا



يكون في هذه المقالة نقطتان مهمتان أولهما الحديث عن اللغة في السياسة الماليزية وثانيهما السياسة اللغوية في ماليزيا. كما عرفنا أن المجتمع الماليزي هو المجتمع المتعدد والمختلف من حيث اللغة والدين والثقافة والسياسة وغيرها من الخصائص الإجتماعية. وكل هذه الأمور تسبب الاختلاف بينهم خاصة من حيث اللغة. وفي السياسة الماليزية، كل المجتمع عندهم حزب معين الذي يستهدف منها المحافظة للحقوق لقومها.مثلا، الحزب (MCA) بستهدف منها الرعاية للحق الصينين و (MIC) للمجتمع الهندي و (UMNO) للمجتمع الملايوية. وكل من هذا المجتمع يريد أن يحافظ على حقهم في هذا البلاد التعدد اللغوي. فبذلك، يأخذ الحكومة الماليزية خططا في وحدة كل هذه المجتمعات وهي بجعل اللغة الملايوية لغة رسمية ووطنية لماليزيا. وهذا الأمر توافقها كل المجتمعات لأن هذه اللغة هي اللغة الأصلية لماليزيا وهي اللغة المفهومة لمعظم المجتمع الماليزي. فاللغة الملايوية كما اتفقها كل المجتمعات يكون لغة أساسية لجميع السياسة الجديدة في ماليزيا خاصة بعد يوجد الاختلاف بين القوم؛ الملايوية والصينية والهندية ختى يسبب الحرب يسمى ب "Peristiwa berdarah 13 Mei 1969". يكون ماليزيا في حالة الاضطراب حتى يبدأ الحكومة أن يقيم بالسياسة اللغوية (Dasar Bahasa) التي الغرض منها هي لمحافظة اللغة الملايوية كلغة رئيسية ولغة وطنية لماليزيا. ومنأغراضها أيضا هي ليجعل هذه اللغة لغة في وحدة المجتمع الماليزية وتعالج المشاكل الموجودة في الحكومة وأيضا كاللغة الحضارة والتقدمية.
ولكن هناك المشاكل في قيام هذه السياسة اللغوية ومنها الدعوة أن هذه اللغة لا تستطيع أن يكون اللغة للتقدم لماليزيا وهذا ستؤدي إلى الخلفية لماليزيا في العالم، ومن مشاكلها أيضا أن اللغة الإنجلزية أكثر في استخدامها عن اللغة الملايوية خاصة في مجال غير الرسمية مثل في الاقتصاد وغيرها، فلذلك يكون اللغة الملايوية أسفل من اللغة الإنجليزية، وأيضا مشكلة العولمة اللغوية حيث سيطرت اللغة الإنجلزية على اللغات الأخرى حتى أصبحت كأنها اللغة الرئيسية والقوية في العالم، فهذا الأمر يؤثر أيضا في ماليزيا ويؤدي إلى أقل الاستخدام اللغة الملايوية عند المجتمع الماليزية. وهناك كثير من الطرق في معالجة هذه المشاكل؛ ومنها القيام القوي في استخدام اللغة الملايوية كلغة الوطني، والكلام أو الوعي من القائد المجتمع أن اللغة الملايوية هي اللغة التقدمية واللغة القدرة مثل اللغة الإنجلزية، والصراح على أن اللغة الإنجلزية هي اللغة الأجنبية مثل اللغات الأخرى مثل العربية وليست اللغة الثانية في ماليزيا،  ويستخدم اللغة الملايوية استخداما واسعا في كل مجال وأمور إما رسمية وغير رسمية، ويجب أن يكون اللغة الملايوية لغة اتصالية ورئيسية في المدارس والجامعات في مالزيا ويكون من المواد الإجبارية في التعليم والتعلم، وغيرها من الطرق.
وإذا نتكلم عن السياسة اللغوية فلا بد أن نقول عن التخطيط اللغوي لأنها تتصل بها وهي جزء من السياسة العامة. فالتخطيط اللغوي ترتبط بنشاط اجتماعي يتم من خلالها التحكم في استخدام اللغة من حيث مكانتها ونظامها وقواعدها. ففي ماليزيا، التخطيط اللغوي من حيث المكانة والطرف للغة هي الجهد في جعل اللغة الملايوية لغة الوطني والرئيسي والعلمي، وأما التخطيط اللغوي من حيث النظام والقواعد هي تتعلق بنظام الإملائي والنطق والمعاني والنحو والأسلوب لهذه اللغة. وهذا التخطيط اللغوي تأتي من السياسة اللغوية (Dasar bahasa kebangsaan) والسياسة التعليمية (Dasar pendidikan kebangsaan) وهما من أهم الشيء لبناء الدولة الحضارة والتقدمة. وهذا التطيط يبدأ في انتاجها سنة ١۹٥۹ والغرض منها أن يؤسس الأسس في السياسة اللغوية مع اللغة الملايوية أساسا لهذه السياسة.

















المصادر:

·        المقالة الأصل اللغة والتضيفها
·        المقالة  الإنفذاء الأسس اللغة فى الرعوية" لراج مختارالدين راج محمد دائن
·        المقالة السياسة الملايا والأصل اللغة " لزين العابدين بن عبد الواحد
·        المقالة المسؤدة اللغة الملايا
·        المقالة الأسس اللغة و البناء الدولة" لدكتور حسن أحمد

 PERNIKAHAN LATAR BELAKANG   Seiring bertambah majunya zaman semakin praktis dan mudah pula para pelakunya atau manusia dalam melakukan ...